Survey Marketing Syariah

Sudah seperti yang saya duga, hasil survey para mahasiswa saya sepekan yang lalu mengenai Marketing Syariah di berbagai perusahaan yang dikunjungi oleh mereka, hampir semua senada bahwa Marketing Syariah adalah hanya sebatas Marketing Spiritual, seperti yang perusahaan contohkan misalkan sering melakukan sedekah, pengajian bersama karyawan bahkan santunan perusahaan kepada orang tidak mampu. Dan ada yang bilang mengatakan “Marketing Syariah” dianggap hanya sebatas Etika perusahaan saja,  seperti yang perusahana contohkan selalu mengatakan hal jujur atau transparan kepada customer tentang kualitas barang atau service mereka. Tapi dari hasil survey serderhana ini ada yang mengejutkan buat saya

Hampir semua yang dikunjungi juga menyatakan bahwa Marketing Syariah perlu di implementasikan diperusahaan mereka. Hal ini bisa di artikan bahwa marketing syariah sudah menjadi kebutuhan para perusahaan yang disurvey. Sebuah penemuan yang menarik ditengah pengertian Marketing Syariah yang dianggap hanya sebatas kulitnya saja. Tidak beda dengan pengertian Jilbab yang hanya dipahami sebatas krudung, padahal kerudung adalah bagian dari Jilbab.

Seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya bahwa Marketing Syariah pengertianya seharusnya tidak sebatas Marketing Spiritual, Marketing Ethic ataupun Marketing yang bersifat Universal saja. Karena jika hanya sebatas itu saja perusahaan yang tidak menggunakan prinsip Marketing Syariah juga sudah melakukanya, jadi apa bedanya yang menggunakan prinsp Marketing Syariah dan yang belum. Akan tetapi Marketing  Syariah harusnya membuat target market yang disasar dan lingkungan kerja Marketing semakin taat kepada Allah SWT.

Seperti pengalaman saya ketika membeli kendaraan bermotor pertama kalinya di cabang Utama sebuah Dealer kendaraan merek ternama, saya sungguh surpise ketika masuk ke lobby mereka, dari ujung ke ujung para karyawan (yang semuanya wanita) menggunakan kerudung semua, sungguh sangat suprise dikarenakan perusahaan ini cukup terkenal dengan modal asingnya. Segera saya lakukan transaksi cash secara antusias (karena pemahaman saya lebih syari’e cash dari pada melakukan secara kredit). Kejadianya jadi berubah ketika satu bulan lagi saya kesana untuk menyelsaikan surat menyurat yang tidak juga mereka selesaikan, padahal kewajiban saya sebagai pembeli sudah lama saya selesaiakan. Saya lihat karyawati yang kemarin berkerudung sudah hilang semua, dan semuanya sudah terbuka kerudungnya. Ketika saya tanya Mbak-Mbak yang disana ternyata jawaban mereke sungguh membuat saya malu campur sedih, kata mereka “oh yang sebulan kemarin ya kita-kita ini Pak, khan bulan kemarin Romadhon jadi kami diwajibkan perusahaan memakai kerudung semua *tepok Jidat

Wallahu a’lam bis-shawaab

Ingin diskusi mengenai tulisan ini, silahkan follow twitter saya @emcivic

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather