MARKETING SYARIAH : Berebut hati di negri yang kaya

bankruptTak pelak lagi negri yang luas dan banyak penduduknya ini menjadi incaran produk-produk asing lihat apa komentar Pieter Lydian, Managing Director di Dell di Indonesia , Hans CEO Vestberg  Ericsson, Andrea Baldi, Head of Operations for Automobili Lamborghini Southeast Asia and Pacific, atau lihat komentar Gregory Lee – CEO Samsung Asia dan apa kata Hermawan Kertajaya dalam Marketing Outlook 2012 “This Country like Beautiful Girl” , mereka semua hampir kompak mengatakan Negri ini adalah pasar potensial. Luar biasa kata-kata yang bisa terucap tentang komentar mereka-mereka ini. Tapi apa yang dikatakan oleh Ketua Umum HIPMI berbeda lagi Raja Sapta mengatakan “besarnya jumlah penduduk ini menjadi incaran para pelaku ekonomi (produk asing) untuk mengeruk keuntungan di dalam negeri”

Betul bahwa Negri  kita kaya raya akan sumber daya alam dan yang terpenting buat asing adalah sumberdaya “PEMBELI” yang begitu menggiurkan, potensi terjadi ledakan pembelian yang tinggi di negri terjadi karena faktor jumlah penduduk yang sanagat besar ini. Memang ironis buat lembaga yang selalu mengkampanyekan keluarga yang sederhana (sedikit) ketidak keberhasilan instutusi ini untuk membendung dan mencegah besarnya kelahiran penduduk ternyata jadi berkah tersendiri bagi negri ini (catat yah :  Sunatullah gak bisa dilawan walau itu dilakukanm oleh institusi pemerintah sekalipun). Akan tetapi  disisi yang lain sayangnya pasar yang begitu menggairahkan ini, ternyata hanya dinikmati oleh orang asing, yang berhasil mengambil uang dari produk negri ini untuk dinikmati mereka di negara mereka sendiri –  sungguh Ironis. Kita layaknya orang berdagang atau berjualan hasil bumi yang kita panggul dari hutan, terpaksa harus kita beli hasil bumi itu sendiri di rumah sendiri melalui perusahaan asing, dan kita tanpa berdaya melihat KAPITALISME berdendang di depan mata kita tanpa kita bisa berbuat apa-apa. Itulah paradoks yang terjadi saat ini di negri yang katanya sungguh cantik dan menarik ini.

Dari sinilah “Muslim Go Online” lahir akan keprihatian ini, kami melihat sebenarnya negri ini tidak mesti lagi berharap dan berorientasi ekspor yang jelas-jelas barat (baca AS & Eropa) sudah mendekati colaps. Justru kita harus menguatkan sesama pelaku perdagangan dalam negri. Dengan SOSMED media yang murah meriah ini di harapkan terjadi perbicangan sesama pelaku perdagangan dalam negri, sehingga di harapkan Produk dari daerah satu dapat mengisi kekosongan produk satu daerah yang lain. Contohnya bisa jadi bahan mentahnya di Sumatra ternyata di butuhkan di Kalimantan, sedangkan bahan mentah di Kalimantan ternyata dibutuhkan oleh penduduk Jawa dan seterusnya. Sehingga di harapakan Intervensi asing bisa kita buang jauh-jauh karena kita sudah berdaulat dalam  hal perdagangan dan ekonomi.

Wallaahu a’lam bis-shawaab

Ingin diskusi  mengenai tulisan ini, silahkan follow twitter saya di @emcivic

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather