HARAMKAH SOSIAL MEDIA ??

Seperti yang kita ketahui menurut analisisi yang dikeluarkan SOCIALBAKERS di tahun 2013 bahwa Indonesia adalah pengguna facebook terbesar ke 4 setelah AS, Brazil dan india, sungguh luar biasa, Tak Kalah hebatnya menurut  semiocost : Negri ini tercatat sebagai urutan pengguna Twitter ke 5 sedunia, bahkan Jakarta dan Bandung masuk urutan 10 besar kota terbesar pengguna Twitter, dan masih menurut semiocost – Jakarta adalah kota yang paling rajin berkicaua di Twitter mengalahkan London, Tokyo, New York, bahkan San Fransisco sekalipun sebagai markas Twitter….Amazing !!! Sering ada yang bertanya kepada saya sebagai Praktisi marketing syariah bagaimana menyikapi Sosial Media dalam tanda kutip bukan buatan orang Islam, apakah halal atau haram. Memang banyak yang salah persepsi mengenai hal ini, dianggap semua yang berbau Barat dan bukan Islam adalah Haram dan Islam urusanya hanya sama Unta saja 🙂 hehehehe. Terus penjelasanya gimana dong ?

Penjelasan mengenai hal  tersebut dalam Islam ada dua istilah, yang pertama disebut Hadlarah yang artinya adalah “sekumpulan pemikiran tentang kehidupan”, Hadlarah ini khas sesuai dengan ideology atau agamanya, jadi tidak NETRAL, Hadlarah barat dihasilkan dari pemisahan antara agama dan kehidupan , sedangkan Hadlarah Islam tidak ada pemisahan di keduanya.

Yang kedua adalah “Madaniyah” yaitu barang atau benda hasil karya manusia yang digunakan dalam kehidupan. Dan madaniyah ini ada 2 hal Madaniyah yang bersifat Umum dan madaniyah yang bersifat khas (atau tidak bebas nilai). Contoh Madaniyah yang bersifat umum seperti hasil kemajuan teknologi, hukumnya mengambil teknologi itu boleh untuk diambil, sebab tidak mengandung pandangan hidup tertentu yang berlawanan dengan Alquran dan Sunah. Sebagai contoh Sosial Media ini. SOSMED memang dihasilkan oleh teknologi Barat. Akan tetapi mengambilnya, diperbolehkan. Sebab SOSMED tidak mengandung pemahaman atau pandangan hidup tertentu. Jika ada kejahatan menggunakan teknologi, tentu saja yang diharamkan bukan teknologinya akan tetapi penggunaan teknologinya, jadi yang dihukumi adalah perbuatanya bukan teknologinya.

Hal ini pernah dilakukan para sahabat Nabi ketika mengambil hasil teknologi dan hasil budaya orang-orang bukan muslim, sebab tidak mengandung pandangan hidup tertentu. Umar bin Khathab RA, pernah mengadopsi berbagai sistem administrasi orang-orang Romawi dan Parsi untuk mengurus sistem administrasi KHILAFAH ISLAMIYAH (negara Islam). Fakta tersebut menunjukkan bahwa hasil peradaban umat selain umat Islam halal untuk diambil selama tidak mengandung pemahaman dan pandangan hidup tertentu.

Wallahu a’lam bis-shawaab

Ingin diskusi mengenai tulisan ini, silahkan follow twitter saya @emcivic

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather