Euforia Romadhon

Di dekade media tahuan 90an lahirlah perbankan syariah di mulai oleh Bank Muamalat dan di pelopori oleh Profesor Habibie, dan mulai saat itu berbetabaranlah Bank-Bank Syariah di negri ini. Dan akhirnya Ekonomi Syariah & Bisnis Syariah identik dengan Perbankan dan lembaga keuangan yang berbasis Syariah. Demikian juga fokus saya di Bidang Marketing Syariah masih dianggap hanya seputar-putar perbankan Syariah dan identik dengan perbankan syariah, tidak salah memang. Bahkan ketika bersama teman-treman mendirikan Konsultan Marketing Komunikasi Syariah di Jakarta, banyak calon client kami memahami jasa kami dianggap hanya untuk lembaga & keuangan yang berbasis syariah saja. Bahkan ada seorang petinggi perusahaan SWASTA malah sempat bilang “Oh ada yah Konsultan Marketing Komunikasi yang syariah?” 🙂 . 

Itulah seklumit perjalanan membangun bisnis dengan berbasis syariah yang sampai hampir 8 tahun bergelut denganya masih dianggap nggak jauh-jauh dari perbankan Syariah saja. Di satu sisi hal itu bisa dianggap sebagai advantage untuk perbankan syariah yang sudah diterima Brand nya di tengah masyarkat, tinggal butuh sentuhan-sentuhan khusus untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah yang masih kecil ini. Dan di sisi lain amat berat mengangkat “Brand” Bisnis Syariah keluar dari bayang-bayang perbankan Syariah.

Ditambah lagi ketika saya berusaha untuk fokus di Marketing Syariah masih banyak khalayak Umum yang menganggap Marketing Syariah adalah Marketing yang  hanya marketing yang bersifat SPIRITUAL, ETIKAL ataupun marketing yang sifatnya UNIVERSAL saja. Untuk kesekian kalinya saya sampaikan kalau hanya 3 hal di atas itu bukan khasnya Orang Islam, orang lainpun tanpa syariah bisa berbuat hal yang sama. Kita lihat saja bulan Romadhon ini mana statitun TV, mall-mall, supermarket dll yang gak ada nuansa Islamnya, atau film-film yang dibuat untuk kalangan penduduk mayoritas terbesar negri ini, dengan dalil ekonomi kapitalisnya: “yaitu untuk memetik keuntungan sebesar-besarnya dari penduduk mayoritas negri ini” dibuatlah film yang kental nuansa Islamnya akan Akan tetapi jauh dari ketaatan kepada Allah SWT. Dengan kata lain jika OUTPUT Marketing Syariah menjadikan dilingkungan Usaha dan dan usaha serta customer dan lingkungan customer menjadi semakin taat kepada Allah SWT itulah yang harus dilakukan oleh marketing syariah.

Jadi jangan sampai Euforia di Bulan Romadhon ini dengan maraknya acara-acara yang bernuansa Islam dan nama acara seolah-olah Islami ini dianggap sebagai strategi Marketing Syariah, fenomena ini hanya bagian dari Marketing Spiritual saja, tanpa kental nunsa mengajak untuk semakin taat kepada SANG PENCIPTA. Dan hebatnya lagi marketing syariah tidak harus selalu menggunakan simbol-simbol yang ada seperti sekarang , seperti tasbih, kopiah, mukena dll. Tanpa menggunakan simbol-simbol tersebut marketing syariah bisa dilakukan. Dan cilakanya simbol-simbol itu banyak dimanfaatkan oleh banyak kalangan untuk memetik manfaat ekonomi dari Umat Islam dalam euforia belanja di bulan Romadhon dari tahun ke tahun.

Wallahu a’lam bis-shawaab

Ingin diskusi mengenai tulisan ini, silahkan follow twitter saya @emcivic

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather