BENCANA BANJIR & SOSIAL MEDIA

banjir sosmed
Sampai pagi ini, bertubi-tubi berita mengenai banjir masih kita lihat di berbagai media. Banjir kali ini yang di duga hanya banjir biasa saja ternyata bencana banjir yang besar, diperkirakan 50 ribu orang di Ibukota negri tercinta ini menjadi pengungsi akibat bencana ini. Di sisi lain bencana yang telah menelan banyak korban jiwa dan harta ini menunjukkan jati diri negri ini sesungguhnya. Kita lihat hampir semua element masyarkat bergotong-royong membantu korban di tengah-tengah bencana yang cukup besar di skala Ibu kota ini – fenomena itu seolah-olah menjadi air penyejuk dahaga di tengah kehausan.

Akan tetapi disisi yang lain lagi, kita juga akhirnya mendapatkan fakta yang berbeda, bahwasanya media mainstream hanya memberitakan kejadian-kejadian yang dianggap luar biasa dari sisi mereka saja. Banyak kejadian-kejadian yang luput dari pemberitaan yang sebenarnya perlu juga dikabarkan. Mungkiin banyak pembaca yang di tinggal di Ibukota dan tidak menjadi korban banjir sering juga di tanyain keluarga atau kolega yang berada di luar kota, kena banjir ya ? Tentu saja kita yang jauh dari daerah banjir mengatakan tidak.

Lain lagi critanya ketika teman dari luar kota yang protes, karena media mainstream sekarang terlalu berlebihan memberitakan banjir Jakarta, padahal di daerah juga terjadi bencana dan menelan korban jiwa juga – Inalillahi wa inailahi Rojiun. Dan hari Ahad kemarin mungkin kejadian yang tidak akan terlupakan oleh sahabat kita yang mempunyai follower ratusan ribu di Twitternya, tanpa disadari oleh sahabat kita ini (yang  kata followernya jangan sampai kita fakir info 🙂 ) tweetnya telah menyinggung organisasi tertentu, dalam tweetnya beliau menganggap organisasi tersebut hanya ada suaranya ketika terjadi keriuhan dan ketika banjir sama sekali tidak ada suaranya kata sahabat kita ini lagi. Tentu saja tweet beliau mengundang banyak komentar, padahal dugaan dan statement yang niatnya hanya intermeso itu akhirnya jadi besar, karena memang tidak betul dan sangat menyinggung (terus terang saja saya juga ikut tersinggung membaca tweetnya). Walau sebenarnya hal itu wajar saja  di lakukan oleh sahabat kita tersebut, betapa tidak karena organisasi yang disebutkan oleh sahabat kita ini, dalam kondisi seperti ini tidak pernah di liput sekalipun oleh media mainstream bahwa mereka juga berkeringat, berbasah-basahan dan serta ikut bersusah payah membantu para korban banjir juga. Seharusnya media juga tidak hanya meliput mereka ketika terjadi kegaduhan saja. Tak di pungkiri inilah media  mainstream yang menguasai kehidupan kita sehari-hari.

Dan untungnya sahabat kita ini setelah mendapat masukan dan info yang sebenarnya, dan dengan berbesar hati beliau segera buru-buru minta maaf dan mendelet statementnya di Twitter. Terlepas dari kebesaran hati Sang Sahabat kita ini untuk meminta maaf dengan cepat, justru yang terjadi adalah Organisasi tersebut menjadi berita dan kehebohan tersendiri, akibat kesalahan informasi. Dan inilah sebenarnya keuntungan social media. Jika di manage dengan bagus bisa jadi “Dunia Sosial Media” menjadi raksasa Informasi yang luar biasa besarnya di negri ini. “Siapa mengkendalikan Informasi dialah pememenangnya “. Selamat menikmati Senin yang membara.

Wassalam

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather